Monday, September 24, 2018

Arwah Gentayangan

Teman gue ada yang baru pindah rumah. Katanya dia sering digangguin oleh mahluk halus penghuni rumah itu. Dia jadi dilema antara harus pindah lagi atau bikin pengajian, gue juga dilema antara harus kasian atau nyuruh dia masuk Islam. Ya, soalnya, dia pengin bikin pengajian tapi Kristen. Gimana ceritanya dong hey! 

"Di Islam kalau ngusir hantu pake pengajian kan?" tanya dia, "Aku mau bikin tapi takut dimarahin sama Mamah."

Gue jawab, "Di Islam nggak ada hantu sih. Yang ada cuma jin. Tapi coba aja baca Quran."

"Udah. Aku baca di kamar. Nggak mempan."

"Kok? Baca surat apa emang?"

"Surat Al-Fatihah. Tapi terjemahannya."

YA NGGAK BEGITU JUGA DONG ANDAAA!

Waktu gue tanya dapet terjemahan dari mana, dia jawab dari Google. Tapi nggak bisa baca bahasa Arab. Jadi dia baca terjemahan.

Gue ngasih liat aplikasi Al-Quran yang gue pasang di Android. "Kalaupun kamu nggak bisa baca huruf Arab, ada cara bacanya pake huruf latin."

Setelah ngajarin cara kerja aplikasi Al-Quran, kami pun lanjut ngobrol. Di obrolan ini akan ada beberapa hal yang ngebolak-balik pikiran kalian. Jadi, bacanya pelan-pelan aja.

1. Arwah gentayangan

Katanya, kemarin-kemarin nyokap dia pernah minta tolong ke 'orang pintar' untuk ngusir mahluk halus di rumah mereka. Kata 'orang pintar'-nya, sosok itu nggak bisa diusir karena 'dia' adalah penghuni sebelumnya yang mati bunuh diri di rumah tersebut.

Sosok itu nggak suka kalau ada manusia yang tinggal di sana. Makanya setiap kali ada orang yang beli rumah itu, pasti bakal diganggu dan nggak akan betah lama-lama.

"Merinding banget," kata dia, "Waktu aku tau sosok itu pemilik lama yang bunuh diri, aku langsung takut. Apalagi katanya kamar dia itu kamar yang sekarang aku pake."

"Jadi, kamu percaya arwah gentayangan?"

"Ya kalau orang yang bunuh diri kan emang bakal jadi gentayangan? Arwahnya nggak diterima sama Tuhan," dia menjelaskan, "Atau orang yang masih punya urusan duniawi."

"Maksud urusan duniawi?"

"Kayak itu lho, misalnya pocong. Itu kan orang yang pas dikubur tali pocongnya nggak dibuka. Makanya dia gentayangan sampai ada yang mau ngelepas tali pocongnya."

Oke, tahan dulu. Ini agak lucu. Dia orang Kristen, tapi percaya misteri tali pocong, yang mana pocong pastilah mayat orang Islam. Halo?

Sekarang gini. Kalau di dunia ini nggak ada agama Islam, dan semua orang mati dikubur pake peti tanpa kain kafan, berarti nggak akan pernah ada pocong kan? IQ?

Berhubung selisih Muhammad dan Isa itu jauh banget, coba deh bayangin di zaman Isa, apa ada orang yang takut pocong? Hehe.

Gue jawab, "Pocong itu cuma karakter fiksi dari cerita rakyat. Sama kayak Sangkuriang. Coba aja kamu main ke Jepang. Di sana ada orang Islam kok. Masjid juga ada. Apa di sana ada pocong? Nggak ada."

"Ih. Tapi emang bener tau. Orang yang mati nggak baik-baik itu suka jadi gentayangan. Kayak yang jasadnya nggak dikubur. Misal dia mati dimutilasi atau dibuang ke sungai."

Agak rumit memang. Dengan logika itu, kalau orang yang jasadnya nggak dikubur bakal jadi arwah gentayangan, terus gimana nasib orang Hindu yang jasadnya dibakar? Apakah semua orang Hindu kalau mati jadi gentayangan? Ngapain mereka ibadah kalau ujung-ujungnya malah jadi gentayangan?

Kemudian gue ngejelasin konsep alam kubur. Dia nyimak. Tapi masih ngotot, "Ya itu kan buat orang yang arwahnya diterima Tuhan. Kalau nggak diterima ya gitu. Gentayangan sampai hari Kiamat."

"Hmm. Baiklah. Terus, mereka ngapain tuh selama nunggu hari Kiamat tiba?"

"Ya gentayangan. Gangguin manusia."

"Oke. Misalnya nih, kamu bunuh diri. Mati kan? Terus kamu gentayangan. Nah, selama nunggu Kiamat, kamu bakal milih ibadah buat ngurangin dosa supaya bisa masuk Surga, atau gangguin manusia yang malah nambah-nambah dosa?"

Dia mikir sejenak, "Ya... ibadah sih."

"Persis," jawab gue, "Kalaupun mahluk yang di rumah kamu itu emang arwah gentayangan, dia bakal milih ibadah daripada gangguin orang. Meskipun udah mati, dia juga nggak segoblok itu kali, ngapain nambah-nambah dosa kalau bisa nyari pahala?"

2. Yesus itu muslim

"Masuk akal sih," jawabnya, "Terus mahluk yang di rumah aku itu siapa?"

"Jin. Anak buahnya Azazil."

"Azazil? Siapa?"

"Iblis. Sebelum dijuluki Iblis, namanya Azazil."

Dia manggut-manggut, "Berarti semua setan kayak pocong atau kunti itu juga jin?"

"Iya, itu jin. Mereka bisa berubah-ubah wujud. Kalau dulu orang Islam dikuburnya pake baju renang, bisa jadi pocong sekarang juga pada pake baju renang."

"Haha. Kenapa mereka suka berubah wujud, bahkan kadang menyerupai manusia?"

"Mungkin buat gaya-gayaan aja biar lebih serem? Nggak tau juga sih. Yang jelas jin dan setan itu beda."

"Hah? Gimana?" sekarang dia garuk kepala.

"Pendeknya sih, jin itu golongan, setan itu sifat. Manusia yang kafir pun bisa disebut setan."

"Ih, aku non-Islam. Katanya non-Islam itu kafir? Berarti aku juga setan dong?"

Gue menepuk jidat. Butuh waktu dan kesabaran tingkat tinggi untuk ngejelasin beberapa istilah Islam ke anak ini. "Pertama, nggak semua non-Islam berarti kafir. Kafir itu sebutan buat orang yang nyembah Tuhan selain Allah."

Dia mengangguk tanda paham.

Gue melanjutkan, "Kedua, nggak semua orang Islam itu muslim. Islam itu agama, muslim itu sebutan buat orang yang nyembah Allah. Kalau ada orang yang ngakunya Islam tapi muja batu nisan, ya kafir juga."

"Ooohh! Berarti orang Kristen juga muslim?"

"Yang jelas Yesus itu muslim. Bukan Islam, tapi tetap muslim. Di Bibel dijelasin kan siapa Tuhan yang dipuja oleh Yesus?"

Dia mengangguk lagi. "Yahudi juga muslim?"

"Harusnya sih muslim. Karena Abraham (Ibrahim) sama Moses (Musa), kedua nabi besar orang Yahudi, juga muslim."

3. Gue juga Kristen

Obrolan seputar arwah gentayangan mulai berganti menjadi obrolan perbandingan agama. Gue sih kurang suka ngebanding-bandingin satu agama dengan agama yang lain, kalau tujuannya untuk mencari siapa yang salah atau menjatuhkan suatu agama. Karena nggak penting banget.

Tapi kalau sekadar sharing untuk referensi, dan orang yang ngajak diskusi bisa ngobrol santai dengan kepala dingin, ya ayo-ayo aja.

"Menurut kamu," kata dia, "Agama mana yang paling benar di antara Yahudi, Kristen, Islam?"

"Semua agama benar. Bahkan setelah belajar banyak tentang Islam, aku malah semakin yakin bahwa Kristen itu agama yang benar."

Dia tanya, "Bisa yakin dari mana?"

"Karena Islam adalah satu-satunya agama non-Kristen yang mewajibkan umatnya untuk mengimani Yesus," jawab gue, "Jadi kalau Kristen itu artinya mengimani ajaran Yesus, maka aku juga Kristen."

"Tapi kenapa kamu pilih Islam?"

"Karena kalau kamu ngikutin ajaran Yesus, kamu juga Islam."

Dia tampak bingung, "Maksud?"

Gue mencoba menghindari kekeliruan, "Udah baca semua isi Bibel? Kalau belum, coba baca dulu. Baru kita diskusi. Atau baca aja semua tulisan yang ditulis pake tinta merah. Semua ucapan Yesus itu yang tinta merah."

Sengaja gue bilang gitu karena dia nggak baca Quran. Jadi, niatnya, gue bakal diskusi pake isi Bibel. Kalau dia udah baca Bibel, barulah gue pake isi Quran. Lagian nggak adil juga kalau cuma ngandelin isi Quran tanpa bawa-bawa isi Bibel, kitab yang dia imani.

Kalau mau diskusi dua agama yang punya dua kitab harus pake kedua kitabnya juga kan? Karena kita nggak boleh egois. Hehe.

4. Lakum diinukum wa liya diin

Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi. Dia udah baca semua tulisan tinta merah. Bahkan dia juga bawa Bibel. Kami diskusi.

"Tapi gereja ngajarinnya kayak gitu," jawabnya, "Ya aku ikutin aja."

"Kalau kamu mau jadi Kristen, ikutin Yesus. Bukan ikutin gereja. Aku pun Islam ngikutin Muhammad. Bukan ngikutin masjid."

Sebelum kalian salah paham, ya, penceramah di masjid emang banyak ngajarin hal-hal yang benar. Tapi maksud gue, kita harus skeptis. Jangan langsung percaya pada omongan para petinggi agama, kecuali nabi dan rasul. Karena beda ustad bisa beda ilmu. Ini masalah sudut pandang dalam menafsirkan kitab aja sih.

Tapi bukan berarti benar-benar nggak dengerin orang gereja atau masjid. Lebih kayak jangan nerima omongan mentah-mentah. Dengerin mah ya dengerin aja. Tapi kita harus riset lagi dan kembali pada kitab yang kita imani.

"Oke," kata dia setelah mendengar penjelasan gue, "Jadi, mau Kristen atau Islam, keduanya sama aja karena sama-sama muslim?"

Gue mengangguk. "Kamu tau? Banyak yang menilai orang Islam itu teroris. Apa aku jadi ragu? Nggak. Aku akui ada banyak orang Islam yang salah kaprah soal jihad. Tapi aku nggak liat mereka. Kalau mau beragama, liat kitabnya, liat ajaran nabi dan rasulnya, jangan liat kelakuan umatnya."

"Setuju. Terakhir, Islam itu apa?"

"Dari bahasa Arab. Artinya selamat. Islam itu cuma agama kok. Nggak penting karena apa pun agama yang kamu anut, selama kamu muslim, kamu selamat. Kamu Islam."

"Oh! Haha! Jadi itu maksudnya? Kalau aku ikutin ajaran Yesus, aku jadi Islam, jadi selamat? Berarti aku Kristen tapi Islam. Haha."

"Dan aku Islam yang juga Kristen."

Percakapan berakhir dengan tawa. Tidak ada yang merasa salah pilih agama, juga tidak ada yang merasa lebih baik dari yang lainnya.

Bagimu agamamu, bagiku kaulah segalanya.

Monday, September 17, 2018

Pura-Pura Tidak Mencintai

Dia duduk menatap gelas berisi soda dingin yang belum diminum sejak dipesan. Sesekali jarinya memainkan air di dinding luar gelas, sesekali mulut manisnya dia gunakan untuk membuang napas. Tindakannya yang terlihat suram itu membuat gue ingin berkata, "Anda puasa? Adzan maghrib udah lewat kok." 

Di sekitar kami ada banyak meja lain yang terisi. Sebagian ditempati remaja yang heboh tertawa, mungkin mahasiswa. Sebagian lagi ditempati lelaki tua yang ditemani beberapa gadis muda dengan pakaian pamer dada dan paha, mungkin udah kebal masuk angin. Kami ada di tempat terbuka lantai tiga.

Sejujurnya, daripada harus mematung hampir satu jam di depan orang ini, gue lebih tertarik untuk ngobrol dengan gadis-gadis vulgar di meja sana, sekadar tukar pikiran aja. Mungkin bisa dimulai dengan: "Terakhir baca berita pemerkosaan berapa tahun yang lalu, Mbak?"

Atau yang lebih halus: "Bajunya bagus banget. Pasti mahal ya? Nggak sayang uang? Soalnya mahal tapi minim. Padahal mukena murah."

Di saat gue sibuk mengingat-ngingat harga mukena yang paling murah, tiba-tiba Risya memukul meja, "Pokoknya malam ini lo harus hamilin gue!"

Hening.

APAAN ANJIR TIBA-TIBA MINTA DIHAMILIN?!

"Sorry?" gue memiringkan kepala, "Lo waras?"

"Nggak! Gue udah gila! Udah nggak tau lagi harus ngapain sekarang! Pokoknya gue minta tolong sama lo, hamilin gue malam ini!"

"Nggak bisa lah! Sinting lo?!"

"Gue bayar?"

Hening. Lagi.

Risya, gadis yang duduk bersama gue, hampir gila karena dipaksa nikah oleh orangtuanya. Risya menolak. Tapi bukan karena belum siap nikah. Masalahnya, dia nggak setuju dengan lelaki pilihan orangtuanya. Masalah lainnya, entah kenapa, nggak ada laki-laki lain yang sudi menikahi dia. Suram banget emang nasibnya.

Gue pribadi bukannya nggak mau. Tapi nggak bisa. Ada lubang yang dia tinggalkan di sini, yang masih belum bisa gue tambal dengan baik. Lubang yang selalu membuat gue ingat, bahwa dia adalah sosok yang ingin gue lupa.

"Please," nada bicaranya mulai pelan, "Gue cuma punya waktu tujuh hari."

"Ya terus? Kalau gue hamilin lo malam ini, emang lusa bisa langsung hamil? Hey halo?"

Dia mengangkat kepalanya, "Nggak langsung lusa juga sih. Tapi kan, kalau jarak dua bulan gue hamil, dia bakal minta cerai?"

"Gini ya, Jaenab, masalahnya bukan berapa lama jeda lo hamil, tapi gue nggak mau lakuin seks bebas sama cewek yang bukan muhrim. Lo samperin om-om di meja itu aja sana. Pasti ada yang mau kalau cuma ngehamilin. Apalagi dibayar."

Dia lalu menatap beberapa lelaki tua di ujung sana, seolah benar-benar mencari sosok yang mau dimintai tolong untuk ngehamilin.

"Ogah," katanya kemudian, "Mukanya pada ngeri. Mana kuat gue sama mereka semua?"

...ya pilih satu aja, Jaenab. Nggak usah semua.

"Pokoknya lo harapan gue," dia melanjutkan, "Saat ini gue cuma bisa minta tolong sama lo."

Gue menarik napas sangat dalam. Menyentuh dahi dengan telapak tangan kanan, kemudian mengacak rambut dari depan ke belakang. Di depan gue ada seorang mantan yang bingung karena masalah perjodohan. Di depan dia ada seorang lelaki yang bingung karena tidak bisa memberi pertolongan.

Sebenarnya gue tau bahwa "minta hamil" itu cuma candaan. Gue kenal joke-joke Risya. Yang dia maksud saat ini adalah meminta gue untuk menikahinya, atau minimal menjadi pacarnya... lagi.

"Lo nggak ngerti sih rasanya," dia bilang.

"Tentang hal?"

"Posisi gue," kini dia meneguk soda yang sedari tadi didiamkan, "Gue nggak bisa nikah sama Daniel. Gue nggak bisa hidup sama orang yang gue nggak cinta."

"Lalu?"

Dia diam sejenak sebelum menjawab, "Dan aku masih sayang sama kamu," nadanya sangat pelan, tapi terdengar sangat jujur.

"Hmm."

"Apa ada yang lebih sakit dari pura-pura mencintai seseorang?"

Dalam hati gue menjawab, ada. Yang lebih sakit dari pura-pura mencintai? Pura-pura tidak mencintai. Selalu bersikap seolah tidak peduli, bahkan di saat orang yang dicintai akan pergi dan kehilangan kesempatan untuk memiliki.

Seandainya dia tidak meninggalkan lubang, gue pasti bersedia untuk kembali. Di luar faktor dia mantan gue yang terakhir, jujur aja, gue juga masih menyimpan rasa kepadanya. Namun percakapan terakhir saat itu, juga masih menyisakan tanda tanya di kepala.

Pernah pada satu malam di perjalanan pulang dari Braga, gue mematikan AC, mengecilkan suara radio, lalu bertanya dengan nada yang terbata, "Jadi, kita ini, apa?"

"Gimana? Nggak kedengeran."

"Kita ini apa? Satu hari kita ini teman. Di hari lain, lebih dari itu. Di lain hari, cuma orang asing."

Dia tidak menjawab.

Gue melanjutkan, "Kadang kita kayak Bulan dan Bumi yang saling membutuhkan. Kadang kayak dua ikan yang hidup di akuarium terpisah, tapi disimpan sebelahan."

Dia menebak, "We are so close, yet so far?"

"And you know it so well."

"Hehe."

"Tapi kamu masih mau berjuang?"

"Hehe. Di depan ada martabak tuh. Mau?"

"Risya," gue menyebut namanya, "Barang siapa suka mengabaikan perasaan seseorang, maka dosanya sebanding dengan menghardik anak yatim."

"Ih, setau aku bunyinya nggak gitu!"

Tapi itu dua tahun yang lalu. Sekarang gue memilih untuk menutup, berniat tidak akan membuka pintu itu lagi. Kondisi kami yang sekarang adalah yang terbaik. Kalau kami melangkah ke hubungan yang lebih jauh, gue takut suatu hari nanti akan membuat kami kesulitan, lebih dari apa yang kami rasakan sekarang.

Menyedihkan memang. Dia yang dulu pernah gue yakini, memilih untuk menghindar dan bersikap tidak peduli. Lantas sekarang, setelah kondisi tidak sama lagi, kenapa dia malah kembali?

"Jadi," katanya, memberi jeda panjang, "Masih mau kasih aku kesempatan untuk berjuang?"

Gue menjawab, mengucap tiga kata.

Dia menatap, matanya berkaca-kaca.

Di depan gue, duduk seorang gadis yang pernah mengusir pergi dengan senyuman. Di depan dia, duduk seorang lelaki yang diminta kembali dengan tatapan penyesalan.

Friday, September 14, 2018

Rebutan Komputer

Waktu awal-awal suka ngeblog, gue jadi lebih sering menghabiskan waktu di depan komputer. Biasanya gue ngeblog tengah malam pas orang rumah udah pada tidur. Soalnya komputer ada di ruang tengah. Kalau nulis pas orang-orang belum tidur, gue suka keganggu. Berisik suara TV, berisik suara Tsaqif sama Nasywa rebutan remot TV, atau berisik suara nyokap yang marahin Tsaqif sama Nasywa gara-gara rebutan remot TV.

Pernah satu malam gue kepikiran ide cemerlang: nyembunyiin remot TV supaya Tsaqif sama Nasywa nggak rebutan lagi. Hasilnya? Nggak ada perubahan. Mereka masih tetap rebutan film. Waktu itu gue lupa, saluran TV masih bisa dipindahin lewat tombol kecil yang ada di TV.

Karena udah pusing sering keganggu (dan gue nggak bisa ngeblog tengah malam terus), gue pun kepikiran ide yang lebih cemerlang: minta komputer yang ada di ruang tengah dipindahin ke kamar gue.

"Bu, komputer pindahin ke kamar, ya?" bujuk gue pada nyokap.

"Komputer?"

"Iya. Lagian jarang ada yang pake, kan? Butuh nih buat ngerjain tugas."

Padahal gue jarang ngerjain tugas. Itu alasan aja biar permintaan gue dikabulin. #LifeHack

"Oh. Ya udah, pindahin aja."

"Serius?"

"Iya."

Komputer pun resmi dipindahkan ke kamar gue. Mantap jiwa. Mulai malam itu, gue bisa ngeblog kapan pun gue mau.

Semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Sampai pada suatu hari, Tsaqif minta komputer dikembaliin ke ruang tengah. Dia emang masih suka main komputer, tapi cuma di hari libur aja.

"Kak, komputer pindahin ke ruang tengah lagi dong," kata Tsaqif sambil pasang ekspresi sedih, "Kalau TV dikuasai sama Nasywa, jadi bete nih."

"Ya kamu mainnya di kamar Kakak aja."

"Apaan!" tiba-tiba Tsaqif menggerutu, "Kamar Kakak suka dikunci, gimana Tsaqif mainnya?" 

Hmm.

Iya juga.

Gue berpikir keras.

Saking kerasnya, otak gue keram.

"Ya udah," jawab gue, "Kamar nggak akan dikunci. Kamu bebas main. Tapi ada syaratnya." 

"Apa syaratnya?" 

"Kalau udah selesai main harus beresin lagi. Jangan berantakan."

"Siap!"

Awalnya nggak ada masalah. Tsaqif juga bisa memenuhi persyaratan yang gue berikan. Tapi setelah beberapa hari kemudian, gue sempat dibuat emosi karena kamar yang berantakan.

Waktu itu kamar gue dibikin kayak kapal pecah. Ada sampah jajanan di kolong meja komputer, mangkuk bekas sayur kacang di atas CPU, Teh Gelas di lantai, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling bikin kesel: keyboard gue jadi banyak yang error gara-gara kemasukan bubuk keripik.

Tentu gue nggak bisa tinggal diam atas perbuatan keji ini. Gue sangat marah. Gue langsung memanggil Tsaqif untuk segera mengahadap kepada gue. Dalam posisi ini, gue baru tau rasanya jadi guru yang manggil murid nakal ke kantor itu kayak gimana. Ternyata asik.

Dalam hitungan detik, Tsaqif udah berdiri di batas pintu kamar.

"Ada apa, Kak?" dengan polos Tsaqif bertanya, "Tadi manggil ya?"

Gue mengela napas sebelum buka suara. Gue harus memikirkan kalimat yang tepat untuk digunakan pada anak kelas 4 SD. Nggak boleh kasar. Tapi harus tetep tegas.

"Tsaqif! Kenapa kamu melanggar persyaratan? Kamu tidak konsisten! Kamu payah! Kamu cemen! Dasar receh! Kamu bukan laki-laki sejati!"

"Tunggu, Tsaqif bisa jelasin..."

"Tidak perlu! Kakak tidak butuh penjelasan apa-apa! Semuanya sudah terlihat dengan jelas!"

"Tapi, Kak...?"

"Tidak ada tapi-tapian! Pergi kamu dari rumah ini! Kakak tidak mau melihat wajah kamu lagi, selamanya!"

Oke, itu cuma simulasi di kepala gue.

Akhirnya gue buka suara, "Tsaqif, kenapa kamar Kakak berantakan? Kamu nggak beresin lagi?"

"Diberesin lagi kok," jawabnya mencoba membela diri, "Kalau sampah sama Teh Gelas yang di kamar bukannya bekas Kakak?"

Oh iya. Itu bekas gue.

Gue cukup malu karena sudah menuduh. Sial. Gue harus mencari alasan lain. Ah! Benar juga, mengingat di atas CPU ada mangkuk bekas sayur kacang, gue jadi gunakan mangkuk itu sebagai alasan. 

"Terus, gimana soal mangkuk bekas sayur kacang? Itu punya kamu, kan?!" 

"Bukan, itu mah bekas Nasywa. Tsaqif nggak pernah bawa makanan ke kamar Kakak."

"Oh..." nada gue mulai mengecil, pertanda bahwa gue benar-benar malu. "Kalau gitu, kenapa kamu nggak ngasih tau Nasywa? Harusnya kamu kasih tau, kalau mau ke kamar Kakak jangan nyimpen bekas makan sembarangan."

"Ah ribet, komputer disimpen di ruang tengah lagi aja lah! Jangan di kamar Kakak!"

Suasana semakin tegang.

Gue semakin panik.

Sekarang Tsaqif jadi balik menyerang pada gue. Ini tidak baik. Gue harus mencari ide untuk memutar penyerangan. Komputer ini harus tetap di kamar gue. Tapi gimana caranya? Semua tuduhan gue meleset. Bahkan sekarang gue berada di posisi nyaris kalah.

GUE HARUS GIMANA?!

Akhirnya dengan rasa terpaksa, komputer pun dipindahkan ke ruang tengah. Ya, Tsaqif memenangkan perdebatan ini. Gue kalah telak. Tapi gue harus bisa berpikir secara rasional dan lebih manusiawi supaya bisa merebut komputer itu kembali. Ini semua tidak boleh dibiarkan. 

Setelah satu hari komputer berada di ruang tengah (dengan kata lain di luar kekuasaan gue), akhirnya gue menemukan solusi untuk mengambilnya kembali. Cara yang gue lakukan adalah: melakukan sistem tawar menawar.

Tadinya sempat kepikiran buat adu suit atau duel Gunting Kertas Batu. Tapi kan, Tsaqif anak laki-laki. Kami harus menyelesaikan masalah ini secara jantan.

"Qif, gimana kalau kita berunding?" bujuk gue pada Tsaqif. 

"Maksudnya?" 

"Ya. Gimana kalau komputer disimpen di kamar Kakak lagi?" kata gue tanpa basa-basi, "Tapi ada imbalannya buat kamu."

"Imbalannya apa?" 

Gue mengeluarkan benda kecil dari saku celana lalu memberikannya pada Tsaqif, "Kunci kamar Kakak buat kamu. Jadi kamu bebas keluar masuk kamar Kakak." 

"SERIUS?!" teriak Tsaqif setengah nggak percaya atas tawaran yang gue berikan. 

"Iya, serius." 

"Yeah!"

"YEAAHH!" 

"YEAAHHUUU!!"

"WOYEAAAHHH!!!" 

"Jadi kunci ini buat Tsaqif, Kak?"

"Kagak lah! Duplikat sana. Bayar sendiri."

Setelah berunding, komputer pun berada di kamar gue lagi.

Ternyata sistem tawar menawar memang ampuh. Asalkan tawaran yang diterima nilainya sebanding dengan tawaran yang diberikan.

PS: metode tawar menawar tidak berlaku di semua kondisi. Gue pernah ngajak barter ke tukang sayur, nggak berhasil. Waktu itu gue minta tomat sekilo dituker sama Tsaqif. Tukang sayurnya nolak.

Monday, September 3, 2018

Racun Patah Hati

Duduk melingkar, gelas berputar, kulit kacang jatuh berhamburan. Seingat gue, ini botol ketiga. Gue nggak terlalu ingat detailnya. Yang gue ingat malam itu jumlah kami enam orang. Empat cowok, dua cewek. Semua cowok seumuran. Cewek pertama lebih muda dua tahun, cewek kedua lebih muda tiga tahun. 

Satu cowok tumbang. Itu Oki. Sekarang dia tidur setelah muntah. Kalau hitungan gue benar, berarti saat ini Geri baru aja beli botol keempat. Gue nggak tau jumlahnya karena nggak ikut minum. Dan gue males ngitungnya. Yang gue tau (dan gue liat) dua jam lalu ada tiga Ice Land di kamar ini. Di saat mereka mabok-mabokan, gue doang yang minum bir Bintang Radler sendirian. Cemen abis.

"Gigip, lo serius nggak mau?" tanya Andin dengan sorot matanya yang ngeselin.

"Daripada itu, harusnya gue yang nanya."

"Apaan?"

Gue bisikin telinganya, "Lo nggak mau pulang? Udah jam 12 malem. Rawan culik."

"Gue lagi mens."

"Lah urusannya sama mens apaan anjir?! Pulang mah pulang aja, maleeeh!"

"Haha. Iya, bentar lagi gue pulang."

Padahal ini kostan dia.

Ternyata udah mabok parah.

Siapa pun yang menilai mereka sebagai pendosa, gue nggak menyangkal. Memang benar mereka pendosa. Bahkan gue juga. Kami semua pendosa. Tapi bukan karena sama-sama pendosa yang membuat gue ingin berteman dengan mereka. Satu-satunya alasan yang bisa gue berikan adalah: mereka masih cukup waras untuk tidak menyakiti orang lain, entah dengan tindakan ataupun ucapan, meskipun dalam kondisi setengah sadar.

Betapa ironis karena di luar sana ada banyak orang yang hobi mengumbar ibadahnya, tapi sering menyakiti orang lain, dan dilakukan dalam kondisi sadar tanpa pengaruh alkohol.

"Gue nggak tau siapa yang lebih cocok disebut pendosa, tapi gue paham siapa yang lebih layak dijadiin teman." Kalimat barusan adalah kata-kata yang keluar dari mulut Geri, ketika Julio bertanya, "Si Boy gimana? Masih belum selesai juga?"

Sekadar info, Boy adalah pacar Wina (adiknya Geri) yang di Instagram rajin upload foto dengan caption potongan ayat suci, tapi tiga hari lalu mencium bibir Wina dan memaksa Wina untuk membuka bajunya. Setelah Wina berhasil menolak, Boy memaki, "Dasar lacur! Kalau lo nggak mau, gue cari yang lain aja!"

Tahan, jangan memaki. Setiap kali ada orang yang ngeselin dan pengin memaki, gue selalu mengingatkan diri sendiri: udah, yang penting lo nggak kayak dia. Nanti nggak punya temen.

Di tengah-tengah keseruan lingkaran, Oki bangun sambil memasang ekspresi paling nggak banget sedunia, lalu berkata, "Eh, ada warung yang masih buka jam segini nggak?"

Julio menimpali, "Lo mual? Mau permen?"

"Beliin koyo."

"Hah? Buat apa?"

"Bu-buat ditempel di jidat."

"Supaya?"

"Supaya keliatan kayak orang pusing."

Tanpa perlu aba-aba, kami semua sepakat untuk ngelempar kulit kacang ke muka Oki.

Duduk melingkar, gelas berputar, abu rokok jatuh tak beraturan. Di atas asbak tersimpan sebatang Sampoerna Mild yang menyala. Itu milik Kinta, sang anak bawang di antara para pendosa. Di usianya kini yang masih duduk di kelas tiga SMA, sejujurnya sangat disayangkan untuk dia berada di sini menjadi bagian dari kami. Di dalam hati gue, ada harapan besar Kinta punya pergaulan yang jauh lebih baik.

Gue pertama kali mengenal Kinta di penghujung bulan November tahun lalu. Saat itu di bawah hujan, di luar Indomaret, masih dengan seragam sekolah, dia berdiri menatap jalan. Gue yang baru keluar dari Indomaret mendekatinya, "Maaf, sekolah di SMA Puragabaya?"

"Eh? Bu-bukan, Kak. Kenapa?"

"Oh. Ada temen sekolah di sana. Tadinya mau tanya, kirain udah jam bubaran."

"Oh. Haha. Bukan, Kak. Maaf ya, hehe."

"Kenapa minta maaf? Santai aja. Mau roti?"

Kalau dipikir-pikir lagi, itu adalah pertanyaan paling tolol yang pernah gue lontarkan kepada orang yang baru gue temui untuk pertama kali. Tapi entah sihir apa yang terjadi, dia jawab, "Roti? Ada, Kak. Barusan beli. Kakak mau Teh Kotak? Aku punya dua. Tadi promo soalnya. Haha."

Mampus. Gue malah jadi awkward.

"Mau, Kak?"

"Oh. Ya. Teh Kotak ya. Boleh. Gratis, kan?"

Dia mengangguk. Menyodorkan Teh Kotak ke arah gue, "Tapi kalau kita ketemu lagi, gantian Kakak yang teraktir ya."

Harus gue akui meskipun tampangnya agak bloon, tapi otaknya jago politik.

Sejak saat itu, gue berteman dengan Kinta. Dan saat ini, dia duduk di sebelah kiri gue. Tangan kanannya sibuk menuangkan Sprite ke dalam gelas berisi Ice Land. Dia satu-satunya orang yang kalau mabok harus dioplos pake soda. Untung bukan soda kue.

Dia meminumnya dalam satu tegukan. "Anjir! Rada pait euy! Salah racik! Tapi kenceng!" lalu mukanya jadi asem, kecut, jelek, jelek banget, terus nunduk sambil menjulurkan lidah.

"Gimana sensasinya?" tanya gue, "Dahsyat?"

Nggak dijawab.

"Hey?"

Masih nggak dijawab.

"Assalamualaikum? Sareng saha ieu?"

Kinta nyengir, "Wah parah si Kakak mah! Kinta teu kasurupan! Tapi ieu edan pisan pokona mah! Wani nambah sakali deui, asli. Kenceng!"

Gue baru tau dia kalau mabok parah bisa tiba-tiba fasih bahasa Sunda. Biasanya nggak gini.

Ah, hampir lupa bagian terpentingnya. Kinta bisa ada di sini karena dia yang meminta. Satu waktu, dia cerita bahwa orangtuanya resmi bercerai. Bapaknya pergi ke Surabaya. Ibunya pulang ke kampung halaman di Jakarta. Kinta tinggal di sini bersama paman dan bibinya yang belum punya anak dan keduanya sibuk bekerja. Singkatnya, Kinta sedih dan kesepian.

Sebelum salah paham, gue jelasin dulu bahwa kami tidak pernah mengajarkan Kinta untuk merokok, apalagi mabok-mabokan. Kami selalu berusaha keras untuk melarang dia menyentuh ini. Tapi diam-diam di belakang kami, Kinta belajar coba-coba seorang diri. Kalau udah kayak gini, kami nggak bisa mengatur lebih jauh lagi. Yah, yang penting dia punya dasar dan paham konsekuensi untuk semua pilihannya, kami bisa hargai.

Percakapan paling memukul yang pernah terjadi di antara kami berdua adalah ketika dia bercerita soal hatinya. "Kak, kenapa ya, Ayah jahat banget? Kinta kesel, Kak. Kinta marah. Pengin nangis. Kenapa sih, Ayah jahat banget ninggalin Bunda?"

Gue tau. Bukan itu kalimat yang mau dia ucapkan. Sebenarnya dia ingin berkata: "Kenapa Ayah jahat banget ninggalin Kinta," tapi dia nggak mau terlihat rapuh. Dia selalu menutup diri. Gue menyadari ini karena setiap kali Kinta mencari pacar, yang dia cari adalah sosok seorang kakak. Sosok yang bisa menggantikan posisi Ayah. Dia ingin dimanja. Ingin diperhatikan. Ingin diselamatkan.

Air matanya mulai jatuh, "Kenapa sih, Kak? Kinta nggak ngerti. Sekarang rasanya kayak udah nggak punya siapa-siapa lagi. Apa Kinta anak nakal ya, makanya Ayah pergi?"

Mendengar nada bicara anak ini yang pelan dan sedikit terbata-bata, jujur gue kehabisan kata-kata. Udah nggak tau mau ngomong apa. Dan pada akhirnya, cuma ada satu kalimat yang terlintas di kepala...

"Berjuang sendiri itu, menyakitkan, ya."

Jam setengah dua. Rencananya, Geri akan bonceng tiga dengan Oki dan Julio, supaya Oki bisa duduk di tengah (dalam kondisi setengah sadar), dan kami nggak khawatir Oki jatuh di perjalanan. Ribet kalau terlihat warga, nanti kami dituduh buang mayat sembarangan.

Julio manasin mesin motor. Geri bersihin botol dan sampah bungkus cemilan. Gue sibuk ngecek bungkus rokok yang masih ada isinya. Ya, yang penting nggak nyolong korek orang, kan?

"Din, gue balik ya!" gue pamitan pada Andin, "Itu Kinta nginep di sini aja. Jangan digerepe."

"Idih, lo cemburu kalau gue gerepe-gerepe Kinta? Lo juga mau ya?" jawabnya enteng, masih dengan sorot matanya yang ngeselin.

"Jangan ngaco ya Anda! Kinta udah gue anggap kayak peliharaan sendiri. Daripada lo gerepe-gerepe anak orang, mending tidur. Awas telat ngampus."

"Bodo ah, mau bolos."

"Anjir," Geri nyeletuk, "Lo udah gila ya? Lo itu udah banyak bolos! Mau dimarahin Bu Nuni?"

"Wah! Bu Nuni ya? Iya deh, gue ngampus."

Padahal dia nggak kuliah.

Dan gue yakin dia nggak kenal Bu Nuni.

Meskipun para pendosa, tapi mereka bisa bikin gue kangen juga. Dan belakangan baru gue sadari, ternyata racun patah hati dampaknya bisa sehebat ini. Sialan.

Dulu gue meyakini bahwa waktu tidak akan mampu membunuh kami. Salah. Sekarang gue paham, keyakinan itu cuma kebodohan dari ego yang tinggi.

Tapi akhirnya gue ngerti. Jika kita ingin menemui seseorang namun dunia enggan memberi kesempatan, maka kita hanya perlu membuat tulisan. Menyusun rangkaian diksi dan spasi, tanpa peduli hasil akhirnya akan menjadi sebuah puisi, cerita fiksi, atau sekadar kata-kata mati yang penuh basa-basi.

Duduk melingkar, gelas berputar, jarum jam jatuh pada setiap detik yang mendetak. Pada setiap rindu yang menduri, pada setiap tawa yang berdosa.

Thursday, August 30, 2018

Jangan Ngerasa Paling Suci

Kemarin Coki nge-tweet: "Ngerasa paling apa aja kek gue nggak masalah. Yang paling gue sebel yang ngerasa paling suci dan alim." 

Mari sepakati dulu. Orang yang ngerasa paling suci dan alim itu artinya: orang yang ngerasa paling benar, ngerasa nggak pernah salah, dan ngerasa paling taat pada agama dibanding manusia yang lainnya.

Jadi, secara nggak langsung Coki bilang: dia nggak masalah kalau kamu ngerasa paling pintar, tampan, atau seksi, asalkan jangan ngerasa paling benar, ngerasa nggak pernah salah, atau ngerasa paling taat pada agama (dan orang lain dianggap murtad atau taatnya cuma setengah-setengah).

Ya. Sengaja nulisnya kayak gitu biar kalian nggak salah paham. Soalnya ribet kalau udah bawa-bawa agama. Netizen lagi sensitif. Tadi aja gue buka Facebook, banyak banget yang nuduh Pandji Pragiwaksono menistakan agama soal Toa Masjid. Padahal video klarifikasinya udah tayang di YouTube. Ada apa sih dengan orang-orang di Facebook?

Sebelum lanjut, gue cuma mau ngingetin, tolong kurangi kecepatan membaca Anda. Ada baiknya baca tulisan ini pelan-pelan, kalau perlu baca ulang. Dan di sini gue nggak lagi bahas agama. Jadi, ya, pokoknya bukan tentang agama.
Itu thread. Silakan buka Twitter Coki.

Singkatnya, gue setuju sama tweet Coki. Orang yang paling nyebelin itu yang ngerasa dirinya paling suci. Paling benar. Nggak pernah salah. Kayak lirik lagu Bad, "Kalian semua suci, aku penuh dosa". Mantap emang Awkarin.

Coba jawab ini:

"Misalnya kamu nggak suka sama lirik lagu YoungLex karena nggak mendidik, kenapa kamu jadi benci sama semua hal yang dia lakuin?"

Gue bukan penggemar YoungLex. Meskipun lagu dia banyak yang bagus (gue akui ini), tapi nggak bikin gue jadi fanatik. Kemarin dia bikin troll "Berantem sama Fans K-pop", jeda dua hari dia upload video klarifikasi. Jujur, gue nggak ngerti kenapa dia bikin troll itu. Ya oke mungkin tujuannya baik. Tapi menurut gue cara yang dia lakuin aneh. Dan gue kurang suka sama cara troll kayak gitu.

Nah, sekarang udah ada poin yang gue nggak suka dari YoungLex. Apakah itu membuat gue jadi benci sama dia? Nggak juga. Gue tetap dengerin lagu-lagunya. Toh, yang gue suka adalah lagunya, yang gue nggak suka adalah troll yang dia bikin kemarin. Nggak ada alasan untuk gue jadi nge-fans atau benci sama dia.

Ya, iya, oke. Gue tau. Abis ini bakal ada banyak yang ngomong dalam hati: "Tapi dia tuh perusak moral bangsa! Banyak anak kecil yang jadi kasar gara-gara dia! Lirik lagunya aja nggak ada yang mendidik!"

Well, tapi kalian sadar kan bahwa bukan tugas dia untuk bikin lagu yang mendidik?

YoungLex itu seniman. Dan karya-karya dia adalah refleksi dari lingkungan sekitarnya, atau kehidupan yang dijalaninya. Apanya yang salah? Dia cuma mencoba jujur dalam berkarya. Kalau ada banyak anak kecil yang jadi nakal gara-gara dengerin lagu YoungLex, itu bukan salah dia. Tapi salah orangtua si anak, kenapa nggak bisa ngedidik anaknya?

Kalimat di atas gue dapetin dari Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono, dua orang tua yang sama-sama punya anak masih kecil dan ada kesempatan anaknya dengerin lagu YoungLex. Mereka nggak nyalahin YoungLex.

Udah cukuplah tradisi "anak kecil kesandung kaki meja yang disalahin mejanya" di generasi 80-90an. Kalau mau jadi orangtua, ya harus siap kerja ekstra. Nggak bisa instant nyalah-nyalahin faktor eksternal. Toh, kalau orangtua bisa ngedidik dengan baik, si anak pun pasti bisa nge-filter.

Dulu nyokap gue sering bilang, "Berteman itu nggak boleh pilih-pilih. Harus bisa bergaul sama siapa pun. Kalau cuma bergaul sama yang baik, begitu kamu hidup di jalan bakal mati digebukin orang."

Maksudnya, kita harus tau cara ngobrol sama preman, polisi, anak punk, pejabat, dan lain-lain. Beda orang beda cara. Bisa ngobrol sama mereka bukan untuk jadi seperti mereka, tapi supaya kita bisa hidup. Kalau kamu nggak bisa adaptasi sama orang lain, dunia kamu bakal sempit.

Gue nulis ini bukan untuk ngebela YoungLex. Tapi untuk menetralkan sudut pandang. Kalaupun ada yang gue nggak setuju dari lagu dia yang diunggah di YouTube: lagunya nggak dikasih disclaimer untuk 17 tahun ke atas. Yah, meskipun gue tau yang kayak gini nggak terlalu berguna, tapi udah menjadi tanggung jawab content creator untuk ngasih peringatan batas usia di setiap karyanya.

Dan iya, pasti masih ada aja orang yang ngotot: "Udah tau anak zaman sekarang pada suka nonton YouTube! Kenapa dia malah upload di YouTube!"

Men. Justru karena YouTube itu platform terbuka untuk semua orang, harusnya yang ditanya itu para orangtua. Kenapa mereka nggak pantau anaknya ketika buka YouTube?

Zaman gue SD tayangan Smack Down dicekal karena banyak anak yang meninggal gara-gara gulat ngikutin Smack Down. Dulu gue suka nonton. Dan gue masih hidup sampai sekarang. Jadi, nggak semua salah platform. Balik lagi ke cara orangtua mendidik anak. Untungnya gue punya orangtua yang cukup adil dan bijak.

Tapi kembali ke pertanyaan: "Misalnya ada hal-hal yang kamu nggak suka dari seseorang, kenapa kamu jadi benci sama orangnya?"

Masih ingat kasus "salah beli" Rando? Yang dia jual hadiah pemberian dari fans, katanya. Gara-gara itu, banyak yang bully Rando. Banyak juga yang tadinya nggak tau siapa Rando tiba-tiba jadi haters (ini manusia paling konyol). Secara etika, gue emang nggak suka sama cara yang Rando lakuin. Tapi gue biasa aja. Nggak benci.

Masih ingat kasus Bowo Alpenliebe? Tiba-tiba banyak orang yang bully Bowo dan benci sama dia. Apa sih. Gue nggak ngerti kenapa kalian benci sama Bowo. Oke dia pake filter yang bikin mukanya jadi lebih putih. Terus, kalian benci karena itu? Ya halo? Mau Bowo pake filter jadi biru, hijau, kuning, hitam metalik, atau totol-totol kayak marsupilami, gue nggak peduli. Nggak ngerugiin gue juga.

Ada banyak orang yang gue nggak suka di dunia ini. Tapi bukan berarti gue benci. Cuma nggak suka sama beberapa hal dari mereka. Bukan benci sama orangnya. Kalau gue dikasih kesempatan untuk ngobrol sama orang yang gue nggak suka, gue masih bisa ngobrol secara biasa tanpa bawa-bawa perasaan pribadi.

Contoh gampang: banyak hal yang gue nggak suka dari pacar gue. Misal, gue nggak suka ketika dia marah cuma diam aja. Gue nggak suka cara dia yang plinplan kayak nggak punya pendirian. Gue nggak suka sama dia yang kalau mau ketemuan suka ngaret karena lama dandan. Tapi itu nggak bikin gue jadi benci sama dia.

Karena kalau suka belum tentu cinta, maka nggak suka nggak harus benci, kan?

***

By the way, kalaupun gue suka bikin jokes soal YoungLex atau Andika Kangen Band, itu bukan berarti gue benci sama mereka. Tapi ya karena emang di situ ada suatu kelucuan aja.

Ya sama lah kayak orang-orang di Twitter yang suka bercandain presiden. Bukan karena benci kan? Tapi karena pengin ngelucu aja:

Di SUCI 7, Ridwan Remin adalah peserta yang paling sering ngatain YoungLex. Gue ketawa? Ya ketawa. Karena lucu. Tapi bukan berarti gue jadi langsung mihak Ridwan dan benci sama YoungLex.

Gue ini tipikal orang yang: "kalau lo bisa nyari celah dari sesuatu yang gue suka untuk jadi sebuah kelucuan, gue bakal ikut ketawa."

Gue lebih suka Android daripada iPhone. Tapi kalau ada meme Android yang lucu (meskipun terlihat ngejelek-jelekin Android), ya gue bakal ketawa. Dan nggak ngambek cuma karena hal yang gue sukai dibercandain orang lain.

Waktu pake Satria FU (gue suka FU), banyak teman-teman gue yang ngatain Satria FU itu motor cabe-cabean. Lalu mereka bikin jokes seputar Satria FU. Dan gue ketawa. Nggak tiba-tiba ngambek terus motornya gue kasih ke tetangga.

Saat ini gue pake Android dari Xiaomi. Banyak yang bilang Xiaomi ini gadget gaib karena suka cepet sold out. Nyarinya susah. Menurut gue sindiran "gadget gaib" ini lucu, dan gue ketawa. Nggak ngambek terus marahin orang yang ngatain Xiaomi. Kenapa nggak? Ya karena ngapain juga?

Makanya gue heran sama orang-orang yang suka ribut sampai musuhan gara-gara politik. Misalnya A dukung Jokowi, B dukung Prabowo. Cuma karena beda, terus berantem sampai musuhan gitu? Padahal Jokowi sama Prabowo biasa-biasa aja. Mereka berteman, kalian yang berantem. Aneh.

Ini kayak anak Party Dork yang suka ribut sama anak Outsider. Padahal personil PWG dan SID berteman. Personilnya baik-baik aja gitu lho. Kenapa penggemarnya yang ribut?

Udahlah, men. Jangan terlalu fanatik sama sesuatu. Capek hidup kalau kayak gitu. Dan jangan over-hate juga. Di balik kesalahan seseorang, selalu ada kebaikannya yang kamu perlu tau. Tentu, di balik kebaikan seseorang, ada juga kesalahannya yang kamu belum tau.

Ya seperti yang Coki bilang di tweet, jangan jadi orang yang ngerasa paling suci. Karena kita semua pasti pernah salah. Ada satu bit Pandji Pragiwaksono yang gue suka:

"Kenapa kalian benci homo? Karena mereka dosa? Ya elah, kayak kalian nggak pernah dosa aja. Kalian tuh pendosa juga. Bedanya, yang homo suka laki-laki, kalian suka onani."

Get it? Ini kan lagi rame politik nih. Gue cuma mau titip, jangan sampai kalian musuhan gara-gara beda pilihan politik. Yah, nggak cuma buat politik aja. Aplikasiin juga ke semua aspek lain yang ada di hidup kamu.

Sekadar tambahan, ada video bagus dari Cameo Project yang bisa kamu simak:

Kalau abis baca tulisan ini (dan nonton video itu) kamu masih fanatik atau over-hate, gue rasa ada dua faktor: antara kurang banyak teman atau kurang banyak pengalaman. Makanya sering-sering ngobrol sama orang yang beda pandangan. Tapi ingat, jangan terlalu cepat narik kesimpulan.

"Gara-gara musim politik, gue nyesel masuk grup WhatsApp keluarga. Selama ini gue kira tante gue cuma miskin. Ternyata rasis juga. Kalau ketemu jadi bingung, mau salam atau gue toyor aja." - Adriano Qalbi.

Kesimpulannya bukan kita harus noyor orang yang rasis karena beda politik kan? Ya kali.