Wednesday, May 23, 2018

Mens Sana In Corpore Sano

Taukah kamu sebuah kutipan dari bahasa Latin: "Mens Sana In Corpore Sano" atau yang dalam bahasa Jawanya: "Nengkene Ojo Nengkono" (iya gue ngasal) itu berasal dari karya sastra bergaya satir? 

Adalah Decimus Iunius Iuvenalis, seniman berkebangsaan Romawi yang menyindir kehidupan sosial bangsanya lewat sastra, karena pada abad itu di Romawi banyak terjadi kebodohan dan penyimpangan.

Cuplikan dalam bahasa Latin: "Orandum est ut sit mens sana in corpore sano."

Terjemahan: "Oreo rasa abon sapi emang paling nikmat kalau dioplos sama es kepal Milo."

Oke, bercanda. Terjemahan yang benar adalah: "Kamu harus berdoa untuk pikiran yang sehat di dalam tubuh yang kuat."

Dan kalau mau memiliki tubuh yang kuat harus banyak minum obat kuat susu sapi yang mengandung banyak kalsium.

Harap diingat: susu sapi tidak bisa diganti dengan kopi ABC Susu Special Mix.

Well, ngomongin soal 'pikiran yang sehat di dalam tubuh yang kuat', belakangan ini pikiran gue lagi kacau berat. Benar-benar nggak sehat.

Gigip Meme
Silakan tonjok layar gadget Anda.

Entah gue yang kurang piknik atau mungkin kebanyakan makan micin, tapi kepala gue berasa mau meledak karena mikirin banyak hal.

Dari sekian banyak pikiran, ada dua yang paling bikin gue susah tidur.

1. Menghadapi ibu-ibu marah

Sekadar info aja, nyokap gue kalau marah bisa lebih ngeri dari Ahok. Bahkan tingkat kengerian nyokap gue bisa mengalahkan kutukan Bundo Malin Kundang.

Satu hal yang bikin gue bingung ketika nyokap marah: gue harus bereaksi seperti apa? Mau balik marah ya jelas salah, minta uang juga salah, ketawa ngakak malah tambah salah.

Pernah satu waktu ketika nyokap terlihat akan marah, gue langsung mencegah dia dengan cara nyanyi lagu Raihan:

"Jagalah hati~ jangan kau nodai~ jagalah hati, lentera hidup ini~"

Ngaruh? Enggak.

Ternyata nyanyi doang nggak cukup. Apa gue harus sambil goyang?

Belum sempat ngambil al-quran untuk nyari surat yang membahas tentang dosa menghardik seorang anak, nyokap udah ngeduluin bilang:

"DURHAKA LHO DISURUH BELI CENGEK AJA SUSAH BANGET!"

Pernah ngalamin nggak? Kalau pernah, ini berarti kamu anak yang durhaka.

Biasanya kalau nyokap udah bawa-bawa kata 'durhaka' cuma karena cengek, gue suka mengajak dia bercocok tanam:

"Bu, besok-besok kita nanam cengek aja lah, biar nggak usah beli. Kan ribet."

Dan biasanya jawaban nyokap, "Nanam di kepalamu? Punya kebun aja nggak. Udah, beli cengek sana!"

Pada akhirnya, perdebatan tentang cengek selalu menjadi petaka di keluarga kami.

2. Ketika mantan move on duluan

Pernah ngalamin momen ini? Saat mantan move on duluan, lalu dia ngabarin udah punya pacar baru, pastinya kita suka bingung dong apa yang harus dilakuin?

Apakah kita harus ngamuk? Apakah harus diam aja? Atau mungkin kita harus nyoba jualan pisang goreng keliling komplek?

Tapi tenang, teman-teman. Gue punya tips untuk menjawab keresahan ini. Kemarin gue iseng update Instagram Stories, survei kecil-kecilan tentang mantan:

"Misalnya mantan udah punya pacar baru, tindakan apa yang harus kita lakukan?

A) Move on
B) Rusakin hubungan mereka?"

Beberapa ada yang jawab A, beberapa lagi ada yang jawab B (mereka jawab via DM).

Hasil persentase dari jumlah voting survei ternyata imbang. Kalau kamu bingung harus pilih yang mana, maka saran gue adalah: pilih move on.

...setelah rusakin hubungan mereka.

#QOTD: "Terkadang kita harus ThugLife."

***

Balik lagi ke Mens Sana In Corpore Sano. Seperti yang gue jelasin di awal, kutipan itu berasal dari sastra satir yang tujuannya bukan untuk mencela, tapi untuk memberi kesadaran dengan gaya sindiran.

Nah, ngomongin perihal sindiran, rasanya zaman sekarang banyak orang yang suka saling sindir di media sosial ya? Apalagi yang baru putus. Orang-orang macam ini, selain bikin sindiran untuk mantannya, juga bikin padat timeline orang lain. Nyampah doang.

Bedanya sama Decimus Iunius: dia satir tapi tujuannya menyadarkan. Kalau orang yang nyindir mantan? Ya... sama. Mereka juga tujuannya menyadarkan.

...menyadarkan untuk saling bacok.

Anyway, kalau kamu aktif di Twitter, mungkin kamu tau akhir tahun kemarin ada satu YouTuber Indonesia yang disindir massal oleh netizen karena status yang dia update. Intinya dia bilang orang atheis nggak lebih baik dari orang beragama.

Bayangkan. Update status doang bisa jadi dihujat massal. Luar biasa.

Ini membuktikan untuk menjadi terkenal dan fenomenal di zaman sekarang nggak harus repot-repot bikin karya. Mau jadi terkenal? Update status sampah aja. Gampang.

Ya, kalau kamu nggak bisa bikin karya, mending nyampah aja. Nggak usah maksain copas atau plagiat karya orang lain.

Sama seperti ketika kamu jomblo pengin punya pacar tapi nggak laku-laku, ya udah nyampah aja, jangan rebut pacar orang lain.

Sebagai kaum fakir asmara, tentunya gue resah dengan oknum-oknum yang suka mempermainkan cinta. Salah dua oknum yang gue benci adalah: tukang tikung dan tikung selingkuh. Kebetulan, gue pernah berurusan dengan kedua oknum tersebut.

Gue pernah kena tikung.

Ralat: gue pernah dikhianati cewek karena dia lebih milih tukang tikung (selanjutnya kita sebut pemulung), padahal saat itu gue sama dia udah pacaran setahun. Emang kampret itu cewek (selanjutnya kita sebut sampah supaya cocok sama pemulung).

Pacaran satu tahun lalu ditikung. Hal apa yang gue lakukan? Tentu saja, nge-tweet.

Gue nge-tweet:
"Telah hilang kepercayaan. Terakhir kali terlihat masih sayang. Hilang sekitar dua hari lalu. Bagi siapa pun yang menemukan harap segera mention gue."

Nggak pernah ada kabar.

Akhirnya apa? Akhirnya kerjaan gue cuma berkaca sambil bertanya:

"Kenapa? Kenapa?! KENAPAAA?!"

Satu minggu pasca putus, gue belum bisa ikhlas dan masuk ke fase patah hati level cemen: rentan galau.

Liat orang pacaran di Facebook, galau.
Liat orang boncengan di motor, galau.
Liat langit mendung dikit, galau.

Tahap selanjutnya, gue mulai masuk fase patah hati level gereget: rentan sirik.

Liat orang upload photobox, sirik.
Liat orang boncengan romantis, sirik.
Liat orang boncengan berantem, seneng.

Tapi masa kegelapan itu telah gue tempuh dan sekarang gue udah bangkit. Kenapa? Karena gue Mens Sana In Corpore Sano. Gue berpikiran positif aja.

Pacar selingkuh? Ya udah nggak apa-apa. Gue tinggal cari lagi. Ganteng ini.

Begitu pun ketika karya diplagiat. Ya udah nggak apa-apa. Gue tinggal bikin lagi. Jago ini.

#QOTD: "Terkadang kita harus sarkas."

Friday, May 18, 2018

Gaya Hidup Anak Gaul

Kadang gue suka iri sama gaya hidup anak gaul kekinian yang setiap weekend diawali dengan: on the way dan diakhiri dengan: thanks for today. Gaul banget. 

Lah gue? Weekend palingan: "Ah kampret sekarang gue mau ke mana ya?" dan ya, biasanya berakhir nggak ke mana-mana. Paling jauh juga ke warung beli Momogi.

Dulu sih masih mending ada film Naruto di GlobalTV. Minimal gue jadi bisa nonton untuk sekadar ngabisin waktu.

Sekarang sejak Naruto tamat, gue depresi. Bahkan sempat hampir kehilangan tujuan hidup karena Naruto udah menjadi Hokage.

"Emang apa hubungannya tujuan hidup sama Naruto udah jadi Hokage?"

Nggak ada.

Kepada yang terhormat Direktur GlobalTV, tolong tayangin lagi anime seru lainnya. Dan kalau bisa durasi iklan dipersingkat. Males liat iklan lama-lama. Hehe.

Weekend kemarin, sama seperti weekend biasanya, gue bingung mau ngapain. Tapi karena kebetulan ada curhatan yang masuk ke email, akhirnya gue iseng ceramah di Instagram Stories:

Tunggu, jangan salah paham. Gue belum selesai ceramah. Tadinya, setelah update yang pertama itu, gue mau lanjut dengan:

"Senang liat orang putus, terutama kalau orang itu nggak bahagia sama pacarnya. Jadi mending putus dan cari yang baru."

Tapi emang dasarnya netizen suka rusuh, di saat gue sibuk ngetik lanjutannya, gue udah diserang via DM. Dikeroyok massal.


Iya anjir iya cuma orang salah kiblat aja yang mau curhat sama gue. :(

Satu-satunya cara yang bisa gue lakukan untuk menghindari hujatan sadis netizen rusuh adalah:

Kabur menyelamatkan diri.

Tentu saja gue nggak main layangan. Itu cuma alibi karena sebenarnya gue nggak bisa main layangan.

Dulu pernah nyoba main, tapi bukannya terbang malah jari jempol gue keserempet benang gelasan. Dan benar sekali, ketika pulang, nyokap langsung heboh.

Nyokap panik, "Kenapa itu jari kamu?!"

"Main layangan," gue menjelaskan, "Tadi jari kena gelasan mambo. Cap Gajah."

"Kan udah dikasih tau! Kalau mau main jangan yang bahaya-bahaya! Udah, sini main sama Ibu. Main masak-masakan."

Oke, terlihat dengan jelas, nyokap sangat terobsesi untuk menyulap anak lelakinya menjadi seorang wanita. Untuk sejenak gue merasa salah terlahir sebagai lelaki.

"Gimana?" kata nyokap lagi, "Mau?"

Kalau aja waktu itu gue udah tau tentang lembaga penampungan anak, gue pasti langsung ngurus surat-surat untuk minta diadopsi oleh keluarga lain.

Oh ya, setelah kabur dari serangan netizen, alhamdulillah sekarang Instagram gue udah aman terkendali.

***

Selain seneng bacain email curhatan, gue juga seneng bacain komen di blog ini. Lebih dari itu, seneng bisa berinteraksi dengan mereka di lintas platform.

Berinteraksi dalam artian sekadar saling sapa, sharing, ngobrol random, ataupun transaksi jual beli kolor secara ilegal.

Kabar baik untuk kalian: gue baru aja kepikiran untuk membeli saham Kaskus, lalu mendirikan Forum JBK (jual beli kolor) pribadi supaya kita semua bisa transaksi secara legal.

Dan kabar baik lagi untuk teman-teman pembaca yang udah pernah ngirim email, berhubung gue ada email kalian, gue akan memberi kehormatan sebagai member pertama yang bisa mencoba forum JBK ini.

Gue akan mengirim email undangan pada kalian yang bernama:

Keuis Pratiwi, Ayu Junianti, Linda, Miranti, Tiara, Dinda, Fira, Dian, Anisa, oke, bentar, kenapa cewek semua?!

Oh shit, gue baru sadar, ternyata selama ini yang suka curhat ke gue kebanyakan cewek. Bahkan emang belum pernah ada anak cowok yang curhat.

Kayaknya rencana pembangunan forum JBK gue pending dulu. Ya bukannya apa, tapi ngapain juga gue beli kolor cewek?!

"Kan bisa buat kado ultah pacar, Gip?"

Kado ulang tahun gundulmu! Kalau gue ngasih kado ultah berupa kolor ke pacar, bukan jadi romantis malah jadi cabul.

Lagian gue nggak kebayang juga kalau percakapan kami seperti ini:

"Aku udah coba," kata pacar gue setelah menerima kadonya, "Suka banget sama warnanya lucu. Ukurannya juga pas. Tapi aku nggak suka bahannya. Bikin panas."

"Panas gimana?" jawab gue yang emang bego untuk urusan kolor cewek, sekaligus mulai curiga mungkin pacar gue ketuker antara kolor dengan Koyo Salonpas.

"Iya panas banget, gerah," jawab si pacar sambil masukin es batu sekilo ke dalam celananya, "Ini bahannya terlalu ngetat, sirkulasi udara jadi kurang bagus."

Sesaat setelah dia bilang itu, dia semakin menjadi absurd, masukin kipas angin ke dalam celananya. Saking kepanasan.

Khawatir paha pacar gue memar-memar, gue pun memberi solusi, "Itu kolor kamu mau aku bikinin ventilasi udara nggak?"

Oke, mulai ngawur.
Stop bahas kolornya, mari kembali ke pembahasan awal: gaya hidup.

Ngomongin gaya hidup, sebagai blogger, gue punya kebiasaan bolos mandi setiap weekend. Terutama kalau seharian diam di rumah nggak ke mana-mana.

Kebiasaan bolos mandi ini pertama kali gue terapkan setelah nonton berita yang ngasih info tentang warga di Zimbabwe sangat kesulitan air.

Para netizen bahkan meramalkan bahwa problem air di Zimbabwe akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Wow! (kenapa gue malah kagum?)

Bukan tidak mungkin problem air ini akan menular ke negara Indonesia. Jadi, untuk antisipasi, gue mulai melakukan gerakan menghemat air. Demi masa depan.

Setiap kali nyokap bilang, "Kamu kenapa nggak mandi hari ini? Mandi sana!"

Gue akan jawab, "Kita harus menghemat penggunaan air, Bu! Kalau cuma di rumah nggak ke mana-mana, nggak usah mandi! Kita tayamum aja sekeluarga!"

Anehnya, setiap gue jawab gitu, langkah pertama yang dilakukan nyokap adalah: ngelempar handuk ke muka gue.

Sedangkan langkah keduanya adalah:

"Ibu nggak setuju ya kalau Tsaqif sama Nasywa ketularan jadi gembel kayak kamu!"

Susah memang kalau punya nyokap yang nggak pernah nonton berita. Padahal niat gue sungguh mulia, guna mencegah krisis air mandi di masa yang akan datang.

Wahai teman-teman pembaca, mari kita selamatkan negara Indonesia. Darah itu merah, nasi itu putih, air itu bening!

...nggak nyambung.

Intinya: jangan sampai negara kita dijajah oleh air mandi seperti negara Zimbabwe.

Mari, bergabunglah bersama gue dalam organisasi "Anti Mandi-Mandi Club" yang akan segera gue rilis beberapa bulan ke depan.

Cara gabungnya gimana?

Gampang kok. Untuk cowok, silakan kirim email dengan isi: nama, usia, foto, dan alasan kenapa ingin gabung.

Cewek? Cukup kirim nomor WhatsApp.

Perekrutan anggota ini diutamakan bagi: cewek yang nggak pake pensil halis dan bisa tetap cantik secara natural, meskipun nggak pernah mandi selama tujuh abad.

***

By the way, kalian suka zombie nggak?

Kemarin gue nonton Kabaneri of The Iron Fortress. Ceritanya tentang musafir yang berkelana naik sebuah kereta, dengan misi harus ngebantai para zombie demi keselamatan umat manusia.

Sumber: Wikipedia

Tokoh utamanya pake kacamata. Gue jadi ingat pada Harry Potter. Bahkan keduanya emang agak mirip.

Persamaan dari keduanya:

1. Pake kacamata
2. Rambutnya acak-acakan
3. Nggak punya orangtua
4. Berjiwa petualang
5. Hidupnya tersiksa lahir batin

Tapi lebih keren Harry Potter. Soalnya tokoh utama di film Kabaneri ini suaranya kayak Doraemon keselek Fatigon satu toples. Suaranya berat banget! Ini sumpah nggak matching sama wajahnya yang cupu abis.

Dengan tampang nerd bego tapi suaranya kayak kucing cabul kebelet kawin, tokoh utama di Kabaneri ini benar-benar freak.

Gue lebih suka sama Hozumi (Mumei), si cewek ahli kungfu partner tokoh utama. Kalau di Harry Potter ada Hermione, maka di Kabaneri ada Hozumi alias Mumei.

Well, Im not zombies addict, but for some reasons I recommend this movie.

Apalagi kalau kamu pecinta genre action, kamu wajib simak cara Hozumi berantem. Dengan tubuh yang lentur kayak adonan cireng dan tinggi badan yang super cebol, Hozumi kalau berantem suka jumping.

ITU AHLI KUNGFU ATAU KUTU LONCAT?

Entahlah. Intinya gaya berantem Hozumi benar-benar keren tiada banding. Bahkan gue berani taruhan, dia kalau disuruh adu Smack Down sama John Cena juga bakal menang. Undertaker? Kane? Stone Cold? Semua lewat!

Sayangnya, meskipun di film ini tokoh utama punya partner cewek unyu jagoan kungfu, mereka tidak menjalin kisah cinta. Film ini emang fokus ke genre action.

Jadi, kalau kamu suka film zombie yang ada unsur cinta-cintaan, mending nonton Twilight Saga aja. Ya, itu vampir sih bukan zombie. Tapi intinya tetap mayat hidup.

Sedikit ngebahas vampir, dulu waktu SMP kelas dua, waktu film Twilight tayang, gue pernah nanya ke teman: "Eh, vampir sama dracula bedanya apa?"

Gue nanya gitu karena bingung. Dulu gue suka nonton film vampir Asia (itu lho, yang kulitnya pucat, pake peci, lompat-lompat, dan bakal diam kalau ditempelin ampau di jidatnya). Setelah nonton Twilight, kenapa Edward Cullen keren banget? Vampir versi Amerika benar-benar mirip manusia!

Hadi, teman gue, menjawab dengan sotoy tapi penuh keyakinan, "Vampir itu dracula dalam bahasa Cina. Kalau dracula bahasa Inggris, vampir bahasa Cina."

Oke, kalau 'vampir' bahasa Cina, 'dracula' bahasa Inggris, 'vampire' bahasa apa?

Setelah pulang sekolah gue buka Google dan menemukan ilmu baru: vampir bukan bahasa Cina melainkan bahasa Indonesia.

Jadi, apa bahasa Cina untuk vampir?

Nggak tau.

Tapi gue tau: vampir di Amerika jauh lebih keren daripada vampir Cina. Dan gue baru sadar bahwa gaya hidup orang Cina beda banget sama orang Amerika. Hal ini berdampak pada perbedaan versi vampir dari kedua negara tersebut.

Kalau di Amerika, vampir adalah monster keturunan dracula. Kalau di Cina, vampir adalah hantu yang harus dikasih ampau. Padahal kalau nengok sejarah, vampir itu aslinya dari Eropa.

Pertanyaan gue: kalau vampir adalah budaya Eropa yang mana aslinya monster pula, kenapa begitu masuk Asia jadi hantu?!

VAMPIR ITU MONSTER! BUKAN HANTU!

Ini bisa gawat kalau negara Cina ngambil monster-monster lain dari Eropa, seperti: Werewolf, Goblin, atau Frankenstein.

Gue nggak kebayang aja kalau misalnya mereka diubah menjadi hantu. Kalian tau cerita Frankenstein? Ya, monster yang di kepalanya ditancepin obeng. Ini bakalan aneh kalau ada hantu yang di kepalanya nancep obeng.

Kurang absurd apa coba? Kuntilanak aja yang di kepalanya nancep paku itu udah terlalu absurd. Ini yang nancep obeng!

Kunti: "Kamu jadi hantu?"
Frank: "Iya, anak baru. Hehe."
Kunti: "Matinya kenapa?"
Frank: "Obeng nancep di kepala."
Kunti: "Kok kita senasib? Huhu."
Frank: "Ketancep obeng juga?"
Kunti: "Aku sih paku payung."

Kemudian mereka buka bisnis matrial dan bengkel bersama-sama.

Tinggal tungguin aja ada hantu yang di kepalanya nancep: iPhone, linggis, gergaji mesin, tihang listrik, spanduk capres, mesin cuci, knalpot racing, dan lain-lain.

Monday, May 14, 2018

Rumah Gue Kena Santet

Nyokap gue adalah tipikal ibu-ibu yang nggak percaya pada legenda, tapi percaya pada mitos. Jadi, di kepala nyokap, naga itu nggak ada. Kalau babi ngepet ada. 

Untuk itu gue bersyukur nyokap nggak percaya pada legenda. Karena kalau legenda dan mitos dipadukan, mungkin di kepala nyokap akan ada mahluk baru: naga ngepet.

Dan ini bisa jadi masalah yang serius kalau nyokap direkrut oleh tim kreatif Indosiar, khususnya divisi pembuatan sinema misteri. Gimana cara ngalahin naga ngepet? Susah anjir. Kasian manusianya.

Nyokap juga percaya pada ilmu santet, semacam ilmu gaib yang bisa mindahin benda ke dalam organ tubuh manusia. Misalnya, mindahin motor ke lambung. Kata nyokap, "Santet itu udah ada sejak Indonesia masih dijajah oleh Belanda."

Tolong diskusikan: kalau santet emang ada sejak saat itu, kenapa para penjajah nggak disantet aja?

Karena dengan santet, Indonesia bisa merdeka tanpa banyak tumpah darah para pahlawan. Kehidupan sosial di Indonesia juga jadi seru. Terutama ketika ada anak kecil yang berantem.

Kalau biasanya: "Apa lo? Ngajak ribut? Mau gue bacok?"

Bakal ganti jadi: "Apa lo? Ngajak ngadu ilmu? Mau nyoba udel pindah ke jidat?"

Tapi nggak asik juga sih kalau Indonesia merdeka dengan santet. Karena nanti di buku sejarah nama pahlawan kita isinya dukun semua. Huhu.

Santet Online
Nemu di Instagram. Kali minat?

Selain babi ngepet dan santet, nyokap juga percaya pada keberadaan mahluk jadi-jadian, seperti: wewe gombel.

"Jangan main maghrib-maghrib! Nanti diculik wewe gombel!"

Ya, kalau kamu sering dikatain gitu oleh ibu kamu, berarti masa kecil kamu penuh dengan larangan, dan wewe gombel.

Gue sendiri nggak tau wewe gombel itu mahluk apa. Tapi gue tau wewe gombel terdiri dari dua kata. Mungkin, wewe itu dari bahasa Sunda, Awewe, yang artinya perempuan. Kalau Gombel itu plesetan dari Gembel.

Jadi, wewe gombel adalah perempuan gembel yang suka menculik anak kecil. Ini lebih masuk akal dibanding wewe gombel adalah mahluk halus.

***

Kemarin-kemarin penyakit nyokap gue kambuh: mengaitkan segala hal dengan hipotesis mistis super ngawur.

Ceritanya di rumah gue ada bau nggak enak yang menyebar ke semua ruangan. Karena nyokap percaya pada teori mistis, dia bilang, "Ini pasti ada yang ngirim jin ke rumah kita!"

Pertanyaan gue: apakah di dunia jin tidak ada penjual Rexona? Kalaupun nggak ada, masa iya kita bisa mencium bau jin?

"Gawat nih!" nyokap masih tetap histeris dengan hipotesis ngawurnya, "Kita harus siram rumah ini pake air kembang tujuh rupa! Iya, tujuh rupa!"

Gue pengin ganti keluarga.

Di saat nyokap sibuk komat-kamit, bokap mencoba untuk klarifikasi, "Ini sih bukan bau jin. Tapi bau bangke!"

"Masa bangke?" timpal nyokap nggak terima, "Udah jelas-jelas ini bau jin!"

Gue setuju pada bokap, "Bu, ini emang bau bangke. Masa bau jin? Coba deh cium yang bener."

"Oh iya!" jawab nyokap akhirnya sepakat, "Bener nih! Ini bau bangke! Bangke jin!"

Ya Allah.

Untuk memastikan, bokap mengutus gue menjadi detektif dengan misi mencari sumber bau tersebut, sekaligus untuk mematahkan hipotesis ngawur nyokap.

"Coba selidiki kasus ini," kata bokap pada gue, "Boleh ajak Nasywa sebagai asisten kamu."

"Tunggu, Komandan," gue memotong perkataan bokap, "Jangan Nasywa."

"Kenapa?"

"Dia belum pulang sekolah."

"Oh iya."

Gue lalu menunjuk Kiki, saudara gue yang kebetulan lagi nganggur, dan kebetulan juga orangnya gampang disuruh-suruh.

Kasus dibuka: mencari sumber bau.

Berhubung di rumah gue ada dua lantai, akan lebih efisien kalau kami berpencar. Kiki di lantai dua sekitar area balkon dan kamar, karena bisa aja ada bangke di kolong kasur. Sedangkan gue di lantai satu sekitar area dapur, karena mau nyeduh kopi.

Gue udah cari ke mana-mana tapi nggak nemu bangke. Kiki juga sama. Dia udah ngubek-ngubek kamar, tapi bukannya nemu bangke malah nemu kolor.

"Aku nemu ini!" kata Kiki yang datang ke lokasi pencarian gue, sambil ngangkat sebuah kolor, "Nemu di kolong kasur!"

Gue nggak tau kenapa bisa ada kolor di kolong kasur. Tapi gue tau itu punya Tsaqif. Soalnya gambar Spiderman.

"Kasus ditutup," kata Kiki, "Barang bukti udah ditemukan."

Gue komplain, "Masa bau kolor!"

"Ya bisa jadi kan?"

"Nggak lah!" gue menyanggah, "Coba aja cium kolornya. Bau nggak?"

Kiki ngendus-ngendus, "Bau!"

Oke. Masalahnya bukan kolor itu bau atau nggak, tapi rasanya nggak mungkin aja kalau gue bilang ke bokap, "Ternyata ini sumbernya! Bakar kolor ini sekarang!"

Gue merasa masih harus melakukan penyelidikan. Gue yakin banget sumber bau itu berasal dari bangke tikus, bukan dari kolor. Kecuali kalau bau kentut Tsaqif bisa nempel di kolor. Sekadar informasi, bau kentut Tsaqif memang sangat luar biasa. Saking baunya, kentut Tsaqif bisa membunuh sepasang komodo dewasa.

Setelah gue check ulang, ternyata ada tikus mati di kolong lemari. Gue baru menyadari ini waktu mau ngambil gelas, karena baunya lebih menyengat.

Mendapati ada tikus mati di kolong lemari, gue merasa menemukan titik terang. Sekarang semuanya udah jelas, gue udah tau siapa maling yang suka nyuri ikan asin di rumah kami. Tuduhan pada Nasywa pun dibebaskan.

Oh sorry, bukan itu maksudnya.

Sekarang gue udah tau bahwa bau itu adalah bangke tikus, yang mati kejepit di kolong lemari. Untungnya rumah gue di kota bukan di hutan, karena bakal repot kalau ada babi mati kejepit lemari.

"Ada bangke," kata gue melapor selesai operasi pengecekan, "Bangke tikus."

Nyokap memberi perintah, "Beli Soklin! Siram semua ruangan di rumah ini pake air Soklin biar nggak bau!"

Akhirnya gue beli dua Soklin lantai ukuran sachet, lalu menyiram seluruh ruangan sesuai instruksi yang diberikan. Mungkin lebih tepatnya ngepel rumah. Gue jadi ngepel dua lantai. Hasilnya?

Nggak ngaruh sama sekali.

Karena baunya masih tercium, bokap menugaskan gue sama Kiki untuk segera ngebuang bangkenya. Oke, yang ini lebih bikin males daripada disuruh ngepel. Nggak masalah sih kalau cuma disuruh ngebuang. Tapi kalau harus ngambil dulu bangkenya, gue nyerah.

Setelah kami diskusi dan negosiasi, akhirnya gue sama Kiki setuju, karena kami diberi upah berupa uang senilai dua puluh ribu. Tapi dibagi dua. Jadi sepuluh ribu. Murah banget. Ya udah lah lumayan.

Gue sama Kiki berdiri di depan lemari, mengambil posisi siap untuk memulai tugas kami. Lemari itu panjangnya satu meter dengan lebar sekitar 30 sentimeter. Tingginya satu meter lebih dikit, isinya adalah barang-barang mudah pecah, dan itulah masalahnya.

Karena kami nggak bisa ngambil bangke itu secara langsung, kami harus geserin dulu lemarinya satu jengkal. Dan karena nggak bisa digeserin secara langsung, kami harus keluarin dulu semua barang yang mudah pecah itu. Repot kuadrat.

"Sip, beres," kata Kiki, "Sekarang kita tinggal geserin lemarinya."

"Oke! Demi sepuluh ribu!"

Kiki mendorong, "Hummpp!!"

Gue bantu nyemangatin.

"Ba-bantuin woy!" kata Kiki setengah teriak sambil kayak kehabisan napas.

"Oke."

Gue bantu doa.

Lemarinya berhasil digeser setelah Kiki terserang encok. Langkah selanjutnya, gue ngambil dua keresek. Satu untuk sarung tangan, satu lagi untuk bungkus bangke tikusnya.

Bangkenya udah agak gepeng dan posisinya benar-benar nyelip di deket tembok, di kolong lemari. Gue juga nggak ngerti kenapa tikus itu bisa ada di sana.

Belakangan gue baru tau: ternyata lemari itu ada bolong kecil di bagian bawahnya. Mungkin tikus itu masuk lewat sana, dan entah gimana ceritanya dia kejepit di belakang.

Gue membungkuk di samping lemari. Masih memegang keresek, lalu dengan penuh keberanian gue berkata, "Ki, kamu ambil bangkenya."

"Lho, kok aku?!"

"Iya lah! Kamu yang ambil, nanti aku yang buang. Kan bagi tugas."

"Oh.. oke."

Padahal maksud gue buang ke tempat sampah yang ada di depan rumah. Ya, intinya tetap buang kan? Hehe.

Gue nggak mau ngambil bangke itu karena ngeliatnya aja udah mual. Kalau boleh milih, gue lebih berharap hipotesis nyokap benar. Soalnya kalau yang mati kejepit di lemari itu adalah jin, ngambilnya gampang. Tinggal buka botol dan komat-kamit, bangke itu pun masuk sendiri.

Beda cerita dengan bangke tikus, harus diambil manual pake tangan. Mau diseret pake sapu tapi takut baunya nempel di lantai, mau dibakar di tempat tapi takut rumah gue kebakaran. Serba salah.

Selesai operasi pembuangan bangke, Kiki bilang, "Gila, rumah ini udah kayak kebun binatang aja."

"Lah kenapa?"

"Ada banyak kecoa, melihara kucing, kemarin ada ular, sekarang tikus."

Tunggu, ada ular? Kok gue nggak tau? Lagian di rumah kami nggak ada yang melihara ular. Apakah mitos mahluk jadi-jadian yang nyokap sering bilang itu benar? Apakah ada orang yang ngirim santet berupa siluman ular?

Menurut penjelasan Kiki, kejadiannya beberapa bulan yang lalu, waktu gue masih sering tidur di mess tempat kerja. Makanya gue nggak tau.

"Ular gimana?!" gue panik, "Ada yang ngirim santet gitu maksudnya?!"

"Bukan. Waktu itu Om Fey bawa ular peliharaan dia ke sini."

ULAR PELIHARAAN.

PE. LI. HA. RA. AN.

O AZA YA KAAAAN.

Gue pikir ada siluman ular. Taunya peliharaan. Ya ngapain dibahas!

Karena perkara bau bangke itu udah selesai, kasus penyelidikan bau ditutup. Dan dengan ini gue menyatakan bahwa rumah kami nggak kena santet. Aman.

PS: sampai saat ini gue masih nggak ngerti kenapa kolor Tsaqif bisa ada di kolong kasur. Misteri yang sulit dipecahkan.

Saturday, May 12, 2018

Nggak Usah Sok Inggris

Berapa banyak musisi luar yang tampil di Indonesia dan di akhir penampilannya ngucapin terima kasih? Udah banyak. Tau reaksi penonton kayak apa? Bangga. Media juga heboh: "Musisi X Tampil di Indonesia, Selesai Acara Ucap Terima Kasih. Keren Banget, Wow!" 

Pertanyaan gue: kenapa orang luar pake bahasa Indonesia dibangga-banggain, giliran orang Indonesia ngomong pake bahasa Inggris malah dikatain?

"Sok Inggris lu! Makan pake asin juga!"
"Ngomong Indo aja napa, ribet lu."
"Apaan YoungLex Awkarin sok Inggris!"

Orang yang sering ngomong gitu adalah orang-orang kampungan. Dan gue yakin, mereka nggak pernah komplain ke ustad yang ketika ceramah pake bahasa Arab.

Kenapa bahasa Arab nggak dikatain? Kenapa cuma bahasa Inggris yang dikatain? Kenapa otakmu nggak dipake?

Mau orang lain ngomong pake bahasa Inggris, Arab, Ukraina, Portugal, Jerman, Swedia, Yunani, atau Korea, ya terserah orangnya. Emang apa salahnya sih kalau mereka mengusasi beberapa bahasa?

Presiden pertama Indonesia, Soekarno Hatta, sewaktu pidato suka ngomong pake bahasa Belanda. Baru tau ya?

Sekarang gue tanya, seberapa sering kamu pake kosakata ini:

1. Sorry
2. Thanks
3. Follow
4. Like
5. Chat
6. Upload
7. Download
8. Share

Ya, itu kan kosakata dari bahasa Inggris. Kalau kamu masih sering pake itu, kamu nggak berhak ngatain orang lain yang sering ngomong bahasa Inggris.

Dan kalaupun kamu agak jarang pake bahasa Inggris, sebenarnya tetap nggak bagus juga ngata-ngatain orang.

Karena...

1. Nggak ada yang ngatur

Coba beli UUD 1945. Di sana nggak ada aturan orang Indonesia nggak boleh ngomong bahasa asing. Bebas. Bahkan di negara ini kita bebas pilih agama. Ya maksud gue, pilih agama aja boleh, masa pilih bahasa nggak boleh?

Lagian waktu di sekolah juga kita diajarin bahasa Inggris. Bukan biar setelah lulus bisa belagu atau songong, tapi biar kita pintar. Biar bisa explore dunia. Faktanya, banyak hal yang ditulis dengan bahasa Inggris dan belum diterjemahin ke bahasa Indonesia.

Contoh: game.

Gue suka main PS. Dari zaman PS 1 gue udah main PS. Dan di PS itu ada banyak game yang cuma nyediain bahasa Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Perancis. Agak jarang ada game yang nyediain bahasa Indonesia. Paling Harvest Moon Back To Nature.

Kalau gue nggak belajar bahasa Inggris, ya kali setiap main PS mau sambil buka kamus?

Dan ya, selain karena nggak ada yang ngatur, kamu juga nggak boleh ngatain karena...

2. Nggak ngerugiin

Misalnya gue nulis blog pake bahasa Inggris. Apakah gue ngerugiin kamu? Oh nggak. Itu hak gue. Perihal kamu bisa bacanya atau nggak, itu urusan kamu. Yang jelas gue nggak ngerugiin.

Kecuali gue nge-blog minta dibayar sama kamu, kuota internet dari kamu, dan gue nulis pake bahasa yang kamu nggak ngerti, itu baru salah gue.

Ya sama dengan musisi. Kalau YoungLex liriknya pake bahasa Inggris, itu hak dia. Kenapa kamu nggak ngerti liriknya, itu urusan kamu.

Begitu pun dengan anak kecil yang suka bikin vlog review squishy. Kalau mereka ngomong: "Next!", "Welcome to my YouTube Channel!", atau "Like, comment, share, and subscribe!", itu hak mereka. Dan mereka nggak ngerugiin kamu.

Jadi, kenapa kamu harus ngatain mereka dengan sebutan 'sok Inggris' atau belagu hanya karena nggak pake bahasa Indonesia?

Kalaupun kamu ngotot mau ngatain...

3. Lakukan hal yang sebaliknya

Ya! Ketika ada orang Inggris ngomong pake bahasa Indonesia, katain mereka!

"Halah sok Indo lu!"
"Ngomong Inggris aja napa, ribet lu!"
"Makasih makasih apaan, thanks aja!"

Pernah nggak sih kamu kayak gitu?

Kayaknya nggak, karena kamu terlalu sibuk sok-sok nasionalis tapi belum benar-benar paham arti nasionalisme.

Dan sebenarnya, kamu harus bangga ketika ada orang Indonesia yang ngomong pake bahasa Inggris. Karena itu artinya orang Indonesia banyak yang pintar. Banyak yang bisa kuasai bahasa asing.

...di saat mereka nggak bisa kuasai bahasa sendiri.

YA! BETUL! BANYAK ORANG INDONESIA YANG NGGAK BISA BAHASA INDONESIA!

Berapa banyak admin online shop yang masih sering tertukar antara 'kita' dan 'kami' di penulisan iklannya?

"Ada yang baru nih dari kita! Kuy dicek langsung! Untuk tanya-tanya dan prodak lain bisa kunjungi web kita ya!"

Kita? Maksudnya lo sama gue?


Yang paling parah, masih banyak orang Indonesia yang belum bisa bedain cara menulis imbuhan.

Di balik.
Dibalik.

Yang pertama keterangan tempat.
Yang ke dua kata kerja.

Ketiga.
Ke tiga.

Yang pertama menyatakan bilangan.
Yang ke dua menyatakan urutan.

Jadi, daripada ngatain orang Indonesia yang ngomong pake bahasa Inggris, mending koreksi orang Indonesia yang nggak bisa bahasa Indonesia.

"Masalah baku dan EYD gimana, Kak?"

Dipake sesuai kondisi. Nggak usah kamu ngomong baku sesuai EYD ketika beli bakso di pinggir jalan. Tapi jangan juga pake bahasa slang ketika nulis surat untuk presiden.

Gue di blog nulisnya acak-acakan. Ya karena gue sesuain sama kondisi. Yang penting kamu nangkep maksud gue, ngerti intinya, itu udah cukup.

PS: lebih banyak orang yang nggak tau kondisi daripada nggak tau EYD. Lucu ya. Hehe.

Thursday, May 3, 2018

Metode Pacaran Pake Gituan

Seorang teman pernah bertanya, "Kok lo bisa sih pacaran sampai tujuh tahun? Pasti udah pernah gituan ya? Kan cewek kalau udah digitu, bakal susah lepas dari cowoknya." 

Gue bingung jawabnya harus serius atau pake bercanda (dan sekadar tambahan: yang nanya gue itu cewek, which mean, mungkin dia sendiri udah pernah gituan makanya tau teori 'cewek bakal susah lepas kalau udah digitu').

...INI DIGITU-DIGITU APAAN SIH ANJIR HAHAHA. Ya you know lah ya. Skip!

Jawaban gue saat itu (dan sampai saat ini) adalah: gue bisa pacaran tujuh tahun sama doi karena itu emang pilihan kami.

Pada dasarnya, mau udah gituan atau apa pun yang pernah kamu lakuin sama pacar, keputusan untuk tetap pacaran atau putus itu ya pilihan bersama.

Nggak ngaruh lah mau udah gituan atau belum, kalau salah satu pihak pengin putus, ya bakal putus. Terutama kalau yang digugat putus nggak bisa nolak. Atau bisa aja nolak, tapi udah capek karena sering berantem, jadinya bodo amat.

...dan itu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan jablay versi ABG sangat pesat di negara ini.

Gue nggak ada masalah sama jablay.
Kamu mau jadi jablay? Mau kasih gratis badan kamu ke pacar? Silakan. Itu pilihan. Dan nggak ngerugiin gue juga.

Tapi... lemme tell you something.

1. Pake kondom

Mungkin saat baca tulisan ini kamu masih kelas dua SMP. Dan pacar kamu sempat ngajak gituan, lalu kamu dilema, bingung nentuin gaya apa yang enak dipake untuk pemula.

...sorry, bukan gitu.

Kamu dilema antara ngasih tapi takut nanti ditinggalin, atau nolak tapi takut ditinggalin juga.

Saran: kasih aja lah. Sama-sama bakal ditinggalin ini. Kalau ngasih, kamu juga kebagian enaknya kan?

Saran yang benar: gue menyarankan untuk jangan ngasih, tapi kalau kamu mau ngasih, ya bebas. Asalkan pake kondom.

"Kondom itu apa, Kak Gigip?"

Kondom adalah alat pelindung yang bisa menahan cairan sperma supaya nggak masuk ke dalam vagina kamu. Jaga-jaga aja pacar kamu kelepasan, nah, tugas kondom adalah mencegah.

Para dokter selalu bilang: "Mencegah lebih baik daripada mengobati."

Makanya kalau mau gituan, harus cegah kehamilan pake kondom. Dan tentu saja, cegah juga setiap kali pacar ngajak gituan sambil direkam.

Kenapa? Karena...

2. Rawan masuk situs bokep

Kalau mau ngerugiin diri sendiri, jangan bawa-bawa orang lain. Kasian kalau orangtua kamu tau ternyata kamu jadi salah satu kontributor video porno.

...apalagi mereka tau kalau kamu dipake secara gratis oleh orang lain.

Bapakmu: "Astaga! Dibesarin pake biaya mahal, disekolahin biar jadi sarjana, bilangnya pergi sekolah, eh malah muncul di YouTube!"

Ibumu: "Koreksi, Pak. Itu YouPoren."

Bapakmu: "Eh iya. Hehe."

Ibumu: "By the way, kok bisa dibuka?"

Bapakmu: "ViPiEn, Bu. Teknologi."

#KritikSosial #HapusAplikasiViPiEn

Masalahnya, kalau ada orang iseng yang minjem ponsel pacar kamu, terus entah gimana caranya video karya kamu sama pacar kesebar di internet, ya udah...

...mending pindah negara aja ke Afrika, operasi plastik, ganti nama, dan memulai hidup baru dengan langkah awal: menikahi pohon jambu.

Dan sebenarnya kalaupun kamu udah pake kondom atau gituan tanpa direkam, tetap ada risiko untuk ngelakuin gituan sama pacar, yang patut dipikir ulang.

"Risiko apaan, Kak?"

Nggak fatal tapi lumayan penting...

3. Belum tentu langgeng

Nggak ada jaminan kalau kamu ngasih badan maka pacar kamu bakal setia. Lagian orang yang pacaran bertahun-tahun aja banyak yang gagal nikah. Apalagi yang pacarannya masih di bawah satu tahun?

"Tapi aku udah lima tahunan, Kak."

Oh ya bagus. Kalau gitu kapan nikah? Nanti undang gue ya! Kalau bisa sediain makanan yang enak-enak.

"Masih lama kayaknya, masih SMA."

Nah, kalau nikah harus nunggu lulus sekolah, kenapa jadi jablay bisa bebas?
Begini ya, adik-adik, jadi jablay itu ada waktunya. Masih terlalu dini kalau kamu mau ngejablay di usia sekolah. Mending fokus belajar aja.

...terutama jangan bolos di kelas biologi. Banyak materi tentang reproduksi dan cara berkembang biak spesies mamalia di sana.

Tapi di luar konteks pacaran langgeng, ada satu hal penting yang harus kamu pahami sebelum gituan sama pacar.

"Apaan lagi tuh, Kak?"

Hmm. Hal itu adalah...

4. Etika sebagai manusia

Dosa dan neraka itu urusan masing-masing lah ya. Lagian gue yakin, orangtua kamu pernah ngajarin agama. Kalaupun nggak, minimal pernah ngasih tau mana yang baik dan mana yang nggak baik.

Terlepas dari agama, kamu harus paham bahwa kamu adalah manusia. Dan manusia itu punya etika. Kamu nggak bisa asal ngelakuin gituan sama siapa aja seenak pantat. Ya bisa sih, tapi kamu bukan kucing kan?

Supaya lebih mudah, coba bayangin diri kamu itu sebuah berlian. Kalau nggak kebayang, turunin dikit: bayangin diri kamu adalah emas.

Intinya, emas yang bernilai itu adalah emas yang nggak kotor. Nah, kalau kamu udah disentuh sama cowok (yang bukan suami kamu), ya kamu jadi kotor.

...untuk sejenak tolong lupakan tagline Rinso: "Berani kotor itu baik."

Kotor dalam definisi Rinso itu kotor fisik. Noda. Yang bisa dibersihin sama sabun cuci. Sedangkan kotor dalam definisi yang kita bahas saat ini adalah kotor kesucian kamu sebagai gadis perawan.

"Emang keperawanan penting, Kak?"

Kalau kamu masih belum tau jawaban untuk pertanyaan itu, coba sering-sering baca buku. Atau buka Google Search. Jangan males baca. Biar pintar. Biar bisa cari kerja yang benar, bukan jadi jablay.

PS: supaya lebih afdol, rajin bacanya sambil diimbangi dengan rajin ngaji ya!